BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Rabu, 17 Maret 2010

Simple Moving Average (SMA)

Suatu simple moving average dibentuk dengan menghitung rata-rata (mean) harga saham selama periode waktu tertentu. Pada satu hari perdagangan terdapat empat macam harga yang terbentuk yaitu pembukaan (open), tertinggi (high), terendah (low), dan penutupan (close). Namun kebanyakan moving averages diciptakan dengan menggunakan data harga penutupan (close). Sebagai contoh, simple moving average 5-hari dihitung dengan menjumlahkan harga-harga penutupan 5 hari terakhir dan membagi totalnya dengan 5.
∑xi = 6+ 7 + 8 + 9 + 10 = 40
= (40/5) = 8
Nilai ini diulang untuk setiap ada data harga baru. Nilai-nilai rata-rata tersebut kemudian digabungkan untuk membentuk kurva yang membetuk kurva moving average. Melanjutkan contoh di atas, jika harga penutupan pada hari berikutnya adalah 11, maka harga baru ini akan ditambahkan sehingga hari yang pertama, dalam hal ini adalah 6, akan dihilangkan. Simple moving average 5-hari yang baru akan mendapatkan nilai sebagai berikut:
∑xi = 7 + 8 + 9 + 10 + 11 = 45
= (40/5) = 9
Selama 2 hari terakhir, SMA bergerak dari 8 ke 9. Setiap kali data hari baru ditambahkan, data hari yang terakhir akan dihilangkan dan moving average akan melanjutkan gerak dengan bertambahnya waktu. Demikian seterusnya.

Untuk contoh selanjutnya pada tabel di bawah, dengan menggunakan data harga penutupan dari saham, disajikan contoh perhitungan simple moving average dengan periode 5-hari. Jika perhitungan dilanjutkan, setiap data hari terbaru ditambahkan maka data hari terakhir dibuang. SMA 5-hari untuk hari ke-5 dihitung dengan menjumlahkan data harga dari hari ke-1 sampai hari ke-5 dan membaginya dengan 5. SMA 5-hari untuk hari yang ke-6 dihitung dengan menjumlahkan data harga dari hari ke-2 sampai hai ke-6 dan kemudian dibagi dengan 5. Proses perata-rataan kemudian bergerak ke hari selanjutnya di mana SMA 10-hari untuk hari ke-7 dihitung dengan menjumlahkan data harga dari hari ke-3 sampai dengan hari ke-7, dan membaginya dengan 5.

Daftar harga
N Harga SMA
1 60
2 70
3 80
4 90
5 100 80
6 110 90
7 130 102
8 140 114
9 120 120
10 110 122
11 90 118
12 90 110
13 90 100
14 100 96
15 110 96
16 120 102
17 130 110
18 150 122
19 170 136
20 160 146
21 150 154
22 130 152
23 120 146
24 110 134
25 90 120
26 80 106
27 60 92
28 50 78
29 70 70

Dari tabel harga dan SMA diatas akan terbentuk dua kurva harga dan SMA dibawah ini.



Grafik dengan berwarna biru menunjukkan pergerakan harga. Sedangkan yang berwarna ungu merupakan grafik SMA dengan periode 5. Dari grafik tersebut dapat dilihat terjadi 4 kali perpotongan antara grafik harga dengan grafik SMA 5-hari. Pada perpotongan pertama grafik SMA memotong grafik harga dari bawah, merupakan sinyal jual, sedang terjadi tren penurunan. Pada perpotongan kedua gantian grafik harga memotong grafik SMA dari bawah, merupakan sinyal beli, mulai terjadi tren menguat. Kemudian pada hari ke 21, setelah terjadi tren penguatan harga mulai bergerak turun dan kembali memotong grafik SMA dari atas, merupakan sinyal jual, tren menurun. Terakhir pada hari ke 29 harga mulai bergerak keatas dan memotong grafik SMA dari bawah, sinyal beli, tren naik.

Grafik diatas adalah contoh perhitungan sederhana dari SMA. Tentu untuk penerapan pada saham yang sebenarnya tidak sesederhana itu. Dimana data harga saham berubah setiap hari dan dari pertama kali perusahaan tersebut memutuskan untuk go public. Jika kita memakai data harian, dan perusahaan itu telah go public bertahun-tahun maka tentu data yang dipakai sangat banyak. Maka untuk memudahkan penulis melakukan analisis, penulis menggunakan software metastock profesional 10.1. Dibawah ini disajikan contoh grafik saham PT ADARO ENERGY Tbk. Beserta indikator SMA dengan periode 5-hari dan 50-hari.


Grafik saham PT ADARO ENERGY Tbk. Diatas menggunakan kombinasi antara dua SMA dengan periode pendek dan SMA dengan periode lebih panjang. Sinyal beli atau jual adalah dengan terjadinya perpotongan antara dua garis SMA tersebut. Sinyal beli terjadi ketika SMA pendek memotong SMA panjang dari bawah. Pada saat itu terjadi tren penguatan. Sebaliknya ketika SMA panang memotong SMA pendek dari bawah adalah sinal jual. Saat itu terjadi sinyal jual karena terjadi tren penurunan.

Pada contoh kasus diatas terjadi beberapa kali perpotongan anatara SMA pendek dengan SMA panjang. Pertama pada sekitar akhir maret 2009 SMA pendek memotong SMA panjang dari bawah, saham PT ADARO mengalami penguatan hingga awal juni. Selanjutnya harga mulai mengalami koreksi. Dilanjutkan dengan garis SMA panjang memotong SMA pendek dari bawah. Setelah mengalami koreksi pada akhir juli garis SMA pendek kembali memotong SMA panjang dari bawah, terjadi sinyal beli. Harga pun kembali menguat sampai awal agustus. Setelah periode itu beberapa kali garis SMA pendek memotong SMA panjang dari bawah. Pada bulan september SMA pendek kembali memotongSMA panjang dari bawah, artinya kembali tren penguatan harga. Tren penguatan tersebut terus berlanjut sampai bulan januari 2010. Kemudian terjadi koreksi kembali dan terjadi penurunan harga. SMA panjang kembali memotong SMA pendek dari bawah. Terakhir pada awal bulan maret SMA pendek memotong SMA panjang dari bawah merupakan sinyal beli. Harga kembali mengalami penguatan.

0 komentar: